Mwkhi54l4AT71A9SPj2FMDVTdJ7sCX4vtnoXHfCo
Cinta Datang Terlambat

Iklan 728x90

Cinta Datang Terlambat

Cinta Datang Terlambat

Kabut pagi yang merasuk ke dalam tubuh ini benar-benar terasa sangat dingin. Sampai-sampai membuatku malas untuk bangun. Mentari saja malas untuk menampakkan wajahnya, apalagi aku yang masih ditutupi oleh selimut ini yang membuatku serasa ingin tidur kembali. Namun, setelah ku ingat-ingat hari ini aku mempunyai janji dengan temanku bahwa aku akan pergi ke rumahnya untuk mengerjakan tugas bersama. Dengan malasnya aku terpaksa bangun dan dengan tubuh yang menggigil dan mata yang masih merem melek aku pun segera menuju kamar mandi. Yang ada dipikiranku adalah hari minggu itu enaknya tidur dan melupakan dinginnya pagi ini. Setelah mandi aku segera bersiap-siap untuk pergi kerumah temanku.

Baru saja aku mengambil ponselku dan mengirim pesan ke temanku kalaunya aku akan segera berangkat ke rumahnya. Eh, sudah ada pesan yang masuk darinya. Katanya, "Renna, kamu jadi enggak kerumahku? mau ngerjain tugas kan". Dalam benakku, "Emang selambat apa sih aku jadi sampai di smsnya? padahal kan baru pukul 8.30. eh, 8.30? Oh, pantas saja janjinya kemarin itu pukul 8.00. Hehe." dan ku balas pesannya, "Iya, ini aku sudah berangkat, Sherly." Aku pun segera melaju dengan motorku menuju rumahnya.

Setibanya dirumah Sherly, kami pun segera mengerjakan tugas sekolah kami dan menyelesaikannya. Kurang dari satu jam tugas kami pun selesai. Akhirnya aku sudah bisa bersantai dan mungkin sudah bisa untuk tidur lagi. Tetapi, rasa kantukku sebelum pergi ke rumah Sherly tadi sudah hilang akibat dalam perjalanan ke kerumahnya tadi aku hampir menabrak seseorang karena saking lajunya. Untung saja aku sempat mengerem motorku, kalau tidak? Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya.

"Oiya, Sher. Tadi itu aku hampir menabrak seseorang ketika menuju rumahmu."

"Haahhh Apa katamu? Menabrak seseorang? kamu ini kalau berkendara itu enggak pelan-pelan aja sih"

"Hehe. Iya iya. Lain kali aku lebih hati hati kok. Oiya, kamu tau gak siapa orang yang hampir aku tambrak tadi? mau tau gak?"

"Emang siapa Ren?"

"Hmm, mau tau aja apa mau tau tau banget dulu nih Sher?"

"Dasar, kamu ini katanya tadi mau ngasih tau. Iya deh, aku mau tau banget nih, siapa Ren?"

"Cowok ganteng Sher. Haha"

"Yaelah kumat lagi ni anak. Terus kamu ajak kenalan gak Ren?"

"Ya enggak lah lah Sher, mana sempat, orang aku abis minta maaf langsung pergi"

"Yahhh.. sayang dong gasempet kenalan."

"Iya nih. Tapi ya kalau ada kesempatan lagi pengen kenalan sih, hehe. Oiya, aku mau pulang dulu ya. Baru ingat kalo masih ada yang belum aku kerjain dirumah, sudah dulu ya, nanti disekolah kita lanjut cerita lagi. Sampai jumpa."

"Sampai jumpa. Hati-hati dijalan ya."

"Iya."


***


Keesokan harinya disekolah


"Eh Sher. Katanya ada murid baru yang bakal masuk ke kelas kita ya?" 

"Iya Ren."

"Cowok apa cewek? kamu tau gak?"

"Katanya sih cowok, duh, ada apa lagi ini, jangan kumat sekarang deh."

"Hahaha. Tau aja kamu ini"

Tidak lama setelah kami ngobrol membahas tentang si cowok pindahan itu, bel pun berbunyi. Aku dan Sherly segera masuk ke kelas, dan aku pun ingin segera tahu seperti apa si cowok pindahan itu.

Aku duduk dibangkuku sambil melihat ke arah pintu menunggu ibu guru masuk. Dan apa yang terjadi? Aku terkejut melihat sosok seseorang yang berada dibelakang mengiringi bu guru masuk. Aku langsung menutupi wajahku dengan buku.

"Eh, Ren. Kenapa kamu nutup-nutupin wajahmu pake buku? bukannya kamu tadi semangat banget pengen tau seperti apa murid pindahannya."

"Anu Sher. I..itu cowok yang hampir aku tabrak kemarin. hehe."

"Ya ampun, Ren. Cowok seganteng itu mau kamu tabrak. sumpah aku ga terima kalo seandainya kamu sampe nabrak dia beneran."

"Ih kamu ini Sher. Tega banget sih sama aku sampe bilang gitu."

"Oh, maaf maaf aku ga maksud buat kamu marah kok. Maaf ya maaf."

"Iya."

Ibu guru pun mempersilahkan si cowok pindahan itu untuk memperkenalkan dirinya.

"Perkenalkan nama saya Rei Michael, panggil saja Rei. Saya baru pindah dari Jepang, tapi saya cukup mahir berbahasa Indonesia karna kedua orang tua saya asli orang indonesia. Mohon bimbingannya."

Setelah Rei mempernalkan dirinya, dia duduk dibelakang karena bangku yang kosong cuma tinggal dibelakang. Dan selama pelajaran berlangsung aku terus berusaha menutupi wajahku agar dia tidak melihatku. Aneh memang, awalnya aku ingin sekali kembali bertemu dengannya dan ingin berkenalan. Tetapi, sekarang sudah satu kelas akunya malah tidak ingin berkenalan dengannya bahkan menyapanya. Mungkin karena aku masih malu dengan kejadian kemarin itu. Iya, kemarin. Tentunya mungkin dia masih ingat dengan apa yang terjadi dengannya. Ah, semakin kupikirkan semakin membuatku frustasi.

Bel istirahat pun berbunyi. Aku masih tetap saja tidak mau bergerak dari tempat dudukku dan terus menutupi wajahku. Sampai suatu ketika Sherly menggelitiki pinggangku dan aku pun refleks berdiri untuk menghindari gelitikannya untuk yang selanjutnya. Dan tanpa sengaja aku pun menabrak seseorang dibelakangku dan kami berdua terjatuh.

"Maaf maaf. Aku lewat nya gak liat liat, terus menabrakmu." Ucap Rei sambil membersihkan pakaiannya dan mencoba meraih tanganku.

"Ah, tidak apa-apa. lagi pula ini salahku. Aku yang seharusnya minta maaf." Kataku ketika aku masih terduduk di lantai dan seketika ku lihat wajah orang yang barusan bertabrakan denganku, aku sontak kaget dan langsung berlari keluar tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Rei tampak kebingungan dan mencoba untuk bertanya dengan Sherly.

"Dia kenapa ?" Kata Rei kepada Sherly

"Gpapa kok, dia baik baik aja, hanya saja dia agak terkejut melihat wajahmu. karna kemarin itu dia hampir nabrak seseorang pas lagi naik motor." Kata Sherly.

"Tunggu dulu. kemarin? menabrak seseorang? jangan jangan dia cewek yang kemarin hampir nabrak aku."

"Iya, kayanya gitu."

"Oh. Aku harus ketemu sama dia, kemarin itu bukan salahnya, sebenarnya itu salahku, aku nyebrang nya gak liat liat dulu, aku harus jelasin karna kemarin gasempet ngejelasin. pasti dia kepikiran banget tentang kejadian kemarin, anterin aku kedia yah"

"Ah iya, boleh kok. dengan senang hati, biasanya sih dia kalo istirahat gini pergi keperpustakaan. ya, kebetulan kamu juga masih baru disini, sini aku temani, ikuti aku."

***


Setibanya di perpustakaan. Terlihat Renna yang sedang duduk melamun. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

"Ranna" Bisik Sherly ketelingaku. "Rupanya dia gak sadar dengan kedatangan kami." Kata Sherly dalam hati.

"Ah, apa?" kataku tampak terkejut. "Oh ternyata kamu Sher." ku bisikkan juga padanya. "Sher, kenapa kamu bawa juga cowok itu ke sini?"

"Ini ada yang dijelasin padamu, katanya tentang yang kemarin itu." kata Sherly dengan jelas tanpa bisikkan kepadaku.

"Iya, ini ada yang perlu kujelasin padamu tentang kejadian kemarin." Kata Rei. "Kemarin itu sebenarnya gak sepenuhnya kesalahanmu, itu kesalahanku juga, karna aku galiat liat waktu pengen nyebrang, dan juga, itu pertama kali aku tinggal di Indonesia jadi lingkungan yang sekararang memang sangat jauh berbeda. Lagipula aku gakenapa kenapa kok, gak ada yang luka, paling aku cuma terkejut aja dan itu benar-benar gapapa. Maaf ya sudah membuatmu berasa tidak enak."

"E..eeh. Iya. Aku juga benar-benar minta maaf sama kamu" Kataku.

"Oiya, kita belum kenalan secara langsung kan? Perkenalkan namaku Rei Michael, panggil aja Rei. Senang berkenalan denganmu."

"Iya, namaku Renna Mai, panggil aja Renna. Senang berkenalan denganmu juga. dan ini temanku." Kataku sambil nunjuk Sherly.

"Perkenalkan namaku Sherly Akiko, panggil aja Sherly. Senang berkenalan denganmu juga."

Acara berkenalan telah selesai kami pun segera menuju ke kelas karena sebentar lagi bel jam pelajaran selanjutnya akan berunyi.

***


Semua pembelajaran telah berakhir dan sekarang saatnya untuk pulang. Tidak seperti biasanya aku pulang ikut Sherly, karena hari ini aku berangkat ke sekolah naik bus. Kalau biasanya kami pulang bersama dengan motor masing-masing. Selama perjalanan pulang kami terus mengobrol membicarakan kejadian di sekolah tadi. Begitu sesampainya di rumahku, aku dan Sherli terkejut melihat Rei menjumpai kami. Entah datang dari mana aku juga gatau.

"Hei kalian, ngapain kalian disini?" Ucap Rei kepada kami berdua.

"Ini rumahku." kataku sambil menunjuk kearah rumahku. "Dan Sherly mengantarku pulang karna aku hari ini kesekolah naik bus."

"Oh. jadi rumahmu disini ya." kata Rei

"Iya." kataku, "dan rumah Sherly gajauh dari sini" sahutku lagi.

"Rumahku juga gak jauh dari sini. Rumahku dekat pertigaan didepan." kata Rei.

"Kalau gitu gak ngelewatin rumahku ya, karna cukup deket dari sini, jalan kaki pun gabakal capek." sahut Sherly. "Rumahku gak jauh dari sini sih kalau ditempuh dengan kendaraan, tapi kalo jalan kaki cukup jauh juga."

"Nah, kalau gitu kta bisa berangkat sekolah bareng. Lagipula aku berangkan pake mobil, jadi bisa sekalian bertiga." sahut Rei juga.

"Kalau aku sih oke oke aja, gimana denganmu Ren?" tanya Sherly kepadaku.

"Hmm, lihat situasi sama kondisi dulu sih, kalo aku bisa ya bisa, kalo engga ya gak bisa dipakasin." jawabku.

"Oke fix. Kalau gitu. dengan gini aku punya temen buat bisa lebih mengenal daerah-daerah di Indonesia, khususnya dareah tempat tinggalku di bandung." jelas Rei. "Hmm, aku pamit dulu ya, sampai jumpa."

"Iya sampai jumpa." Sahut kami berdua.

Tidak lama setelah Rei pergi, Sherly pun segera pulang juga. Dan aku tidak lupa mengucapkan terima kasih atas tumpangannya hari ini.

***


Setelah hari itu, kami bertiga yaitu aku, Sherly dan jua Rei sering berangkat ke sekolah bersama-sama. Dan tidak jarang pula pada akhir pekan kami jalan-jalan mengelilingi kota Bandung dan tidak lupa kami menjelajahi kuliner. Semenjak saat-saat yang telah kami lalui itu aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Melihat keakraban Rei dengan Sherly, mereka yang terlihat sering bercanda dan bahkan juga mereka hanya berangkat berdua. "Rasanya. Sakitnya itu... di sini" ucapku sambil menunjuk ke hati. Pikirku,"Mungkin mereka berdua memiliki hubungan yang spesial. Mungkin mereka sudah paccaran. Oh.. tidak tidak. apa yang barusan aku pikirkan. Jangan, jangan berpikiran seperti itu Ren. Ayo Renna semangat" kataku sambil mengemangati diriku.

Hari-hari terus berlalu dan ku lihat mereka berdua semakin dekat. aku pun akhir-akhir ini jarang mengobrol dengan Sherly. Entah aku yang sengaja mengindarinya atau dia yang mengindari aku. Aku pun bingung dengan apa yang harus kulakukan. Melihat mereka berdua itu benar-benar membuat galu. Galau tingkat dewa.

Suatu ketika Sherly menghampiri diriku yang sedang duduk melamun ditaman sekolah sendirian.

"Renna.. Rennaa" Panggil Shenly padaku, namun aku tidak mendengarnya. Dia pun mendekat dan menepuk punggungku. Spontan saja tanganku ingin kembali menepuknya, tetapi untung saja tidak sempat ku pukul.

"Eh.. kamu Sher.. Ada apa? kamu lagi gak sibuk?" Tanyaku.

"Kamu kenapa Ren? Akhir-akhir ini kamu agak berubah" Tanya Sherly juga.

"Bukannya kamu yang berubah Sher." Ucapku dalam hati. "Ah masa? Enggak kok. Eamangnya berubah kaya gimana maksudmu?" Tanyaku lagi.

"Kamu akhir-akhir ini sering terlihat menyendiri, kamu memangnya kenapa? aku khawatir sama kamu tau." Jelas Sherly.

"Kapan aku menyendiri? aku akhir-akhir ini sering sibuk, jadi aku gasempat ngumpul bareng kalian." Jelasku padanya dengan kebohonganku. Sebenarnya, aku memang sering menyendiri karena akan terasa sangat sakit jika sering melihat mereka selalu berduaan.

"Aku gak percaya sama yang kamu katakan, Ren. Jelas-jelas wajahmu terlihat berbohong"

"Ya sudah terserah kamu, kalau kamu gak percaya dengan." Dengan rasa sakit dan kekecawaan aku langsung berlari menjauhi Sherly. Sampai-sampai aku menangis karena saking tidak sanggupnya menahan sakit yang ku alami saat ini.

Sherly pun kebingungan melihat sikapku yang seperti ini. Dia benar-benar merasa ada yang aneh dengan diriku namun dia tidak tahu itu apa yang membuatku seperti ini. Dia pun mencoba mengejarku namun aku sudah jauh berlari.

***


Semenjak hari itu aku tidak lagi pernah bicara dengan Sherly. kami bahkan tidak pernah lagi berangkat sekolah bersama. Jarak antara aku dengan Sherly semakin menjauh. Inikah kejamnya cinta? Bahkan dapat merusah persahabatan yang sudah lama kami bangun. Belum lagi ini adalah pertama kalinya aku jatuh cinta. Bisa dikatakan bahwa Rei adalah cinta pertamaku. Walaupun aku sudah sering melihat cowok yang ganteng-ganteng. tetapi aku belum pernah menemui orang yang seperti Rei. Apakah cinta pertama ini akan berakhir tragis?

Hari-hariku semakin terasa menyakitkan. Rasa sakit yang baru pernah kurasakan. Hal ini benar-benar membuatku frustasi dan rasanya aku ingin mati saja. Melihat orang yang sangat kucintai bersama dengan sahabatku sendiri. Apakah kisah cinta ini akan berakhir sampai disini, begitu pula dengan persahabatan yang telah lama aku dan Sherly jalani juga akan berkahir

***


Sherly yang kebingungan dengan sikapku sejak saat terakhir kami bicara itu. Dia pun mencoba menanyakannya dengan Rei.

"Rei. kamu ngerasa gak Renna akhir-akhir ini berubah?"

"Oh, soal itu aku juga merasa, Ranna akhir akhir ini berubah, kamu tau kenapa dengannya Sher?"

"Nah, itu yang aku gatau. aku bingung sama sikapnya, makanya aku nanyain kekamu."

"Kamu kan sahabatnya. seharusnya kamu lebih tau daripada aku, kalo kamu nanyain ke aku, ya jelas aku gatau lah."

"Nah, yang jadi masalah nya ini dia gamau cerita ke aku apa yang sebenarnya terjadi padanya, terakhir kali kami ketemu dia tampak gapeduli sama aku, dia bener banar gamau cerita apa yang terjadi, pas ketemu aja dia berlari menghindariku, aku bingung jadinya, aku harus ngapain? hal ini gaboleh berlanjut, aku harus menyelesaikannya, gimana menurutmu Rei?"

"Kalau menurutku sih kamu sebaiknya bicara lagi dengannya, tanyakan apa yang terjadi sebenarnya"

"Sudah sering kulakukan Rei, setiap kali aku mau bicara padanya dia pasti menghindariku, dia kayanya marah sama aku, tapi aku gatau apa salahku, aku benar benar gatau, aku salah apa? ini pertama kalinya Renna bersikap kaya gini, biasanya kalo dia marah besoknya dia udah baik lagi, tapi ini sudah tiga hari lebih semenjak aku bicara dengan ditaman itu, ini benar benar bukan Renna yang kukekanl"

"Kalo gitu gimana kali aku aja yang nanya ke Renna kalo kamu gabisa?"

"Gak usah Rei, kayanya dia juga mengabaikanmu, sebaiknya jangan, aku takut keadaan nya malah lebih buruk, tapi, terima kasih atas tawarannya"

"Kamu yakin Sher? aku akan melakukan apapun untukmu Sher. Kamu gausah khawatir, aku akan selalu ada untukmu kapanpun kamu membutuhkan aku"

"Tunggu dulu, apa maksudmu dengan melakukan apapun untukku, akan selalu ada untukku. Apa maksudnya? kamu suka sama aku ya Rei? jawab"

"Em... soal itu, jangan dibicarain sekarang, yang harus kita pikirin gimana nyelesain masalah tentang Renna."

"Tidak! Jawab saja. Aku merasa ini ada sangkut pautnya dengan masalah Renna. Jawab!"

"Hmm. Ya sudah. Iya, aku menyukaimu Sher, aku jatuh cinta padamu."

"Maaf Rei. Aku menyukaimu, tetapi hanya sebatas teman tidak lebih. Maaf sekali Rei. Hanya saja dari awal aku benar-benar tidak menaruh harapan apapun untuk jatuh cinta padamu. Dan terima kasih Rei sepertinya aku menemukan jalan untuk menyelesaikan masalahku dengan Renna."

"Baiklah kalau itu maumu, aku tidak bisa memaksa. Tetapi apa maksudmu dengan menemukan jalan untuk menyelesaikan masalahmu dengan Renna?"

"Begini Rei. Akhir-akhir ini kita sangat sering berdua, kita sangat dekat, kita sering bercanda. Mungkin Renna sudah salah paham. Dia mengira bahwa kita pacaran dan aku tidak bilang-bilang padanya. Tetapi, padahal kita hanya sebatas teman saja walaupun kamu berpikiran bahwa kamu menyukaiku."

"Jadi, intinya itu dia marah sama kamu karna kamu tidak bilang padanya tentang hubungan kita?"

"Bukan begitu Rei. Maksudku Renna itu cemburu melihat kita sering berdua dan sepertinya dia jatuh cinta sama kamu, Rei."

"Apa?! Jatuh cinta padaku? Jangan bohong kamu."

"Aku engga bohong. Dilihat dari sikapnya itu aku bisa nyimpulin bahwa ia suka kamu. Oke, terima kasih banyak Rei. Pulang sekolah nanti aku mau menemuinya dan ngejelasin semuanya."

"I...iya sama-sama."

***

Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi. aku pun segera bergegas untuk pulang ke rumah. Namun kulihat Sherly sudah menungguku. Aku mencoba untuk menghindarinya. Tetapi dia bisa mengehentikanku. Aku pun terpaksa berhenti, tetapi tiba-tiba saja kepalaku tarasa pusing dan seperti ada yang keluar dari hidungku. Ku lihat dara keluar dari hidungku dan aku tidak sadarkan diri setelah itu.

"Renna. Kamu dah bangun?" Tanya Sherly padaku.

"Sherly? Kau kah itu." Tanyaku.

"Iya. Ini aku Sherly." Jawabnya.

"Sher, maafin aku. Akhir-akhir ini aku mengabaikanmu. Aku benar-benar galau Sher,"

"Gapapa Ren. Aku bisa ngerti keadaanmu. Kamu ga usah khawatir aku udah tau semuanya. Aku sama Rei gapuya hubungan apa-apa dan kami hanya temenan aja walaupun sebenarnya dia jatuh cinta sama aku. Tetapi aku menolaknya Ren kamu tahu sendiri kan kalau dia itu bukan tipeku. Seharusnya kamu bilang dari awal kalau kamu jatuh cinta sama Rei. Kalau tahu kan aku bisa membantumu."

"Aku berusaha ngasih tau kamu Sher. Tapi melihat kalian makin akrab jadinya aku gak bisa ngasih tau kamu. Bahkan aku pernah mikir bahwa kalian sudah pacaran. Aku galau banget."

"Ya sudah. Kamu tenang aja Sher aku udah baikan kok."

***

Tidak lama setelah kami mengobrol, saling menjelaskan tentang kesalah pahaman di antara kami berdua. Orangtuaku bersama dengan dokter masuk ke dalam ruangan tempat aku dirawat. Kulihat orangtuaku sedang mengobrol dengan dokter tatapi aku tidak mendengar obrolan mereka. Setelah mengobrol, orangtuaku mengampiriku

"Nak, besok kita berangkat ke Jepang. Urusan sekolah nanti ayah yang menanginya. Kamu akan menjalani pengobatan dirumah sakit di Jepang. Nanti barang-barangmu biar ibumu yang mengemaskannya." Ucap ayah padaku.

"Ke Jepang? Kenapa harus ke Jepang, yah? Emangnya aku sakit apa? Aku kan cuma pingsan aja dan sedikit mimisan." Kataku.

"Kamu didiagnosa mengidap penyakit leukemia nak dan itu harus segera ditangani. karna saat ini di Indonesia sangat sulit untuk pengobatan penyakit ini, jadi kita harus berangkat ke Jepang." Jelas ayah padaku dengan raut wajah yang terlihat sedih.

Aku dan Sherly yang masih berada di sampingku lantas terkejut mendengar penyakit yang sedang ku idap. Aku tak bisa berkata apa-apa. Sherly pun ikut terdiam

"Baiklah, sekarang ayah akan mengurus tentang sekolahmu dan ibumu juga akan mengemasi barang-barang untuk kita berangkat besok. Mungkin perawatanmu disana akan cukup lama. Jadi, kita mungkin sekalian akan pindah ke sana." Jelas ayah lagi.

“Pindah, Yah?” Tanyaku untuk memperjelasnya.

“Iya, Nak. Kita sekalian akan pindah dan tinggal di sana.” Kata ayah memperjelas.

“Oh. Baiklah, terserah ayah kalau itu memang yang terbaik.” Kataku.

 Setelah menjelaskan semuanya, orangtuaku pun mempersiapkan mengurus kepindahanku yang sangat mendadak ini. Setelah mereka keluar Sherly pun langsung bicara kepadaku.

“Renna. Kamu yakin akan pindah?”

“Iya, aku yakin Sher. Mau bagaimana lagi ini juga demi kebaikanku, aku harus segera sembuh. Nantinya kalau aku sudah sembuh total aku bisa saja mengunjungimu ke Indonesia. Kamu tenang saja Sher, tidak usah khawatir aku pasti sembuh kok dan kita pasti akan betemu lagi.”

“Harus dong. Kamu harus sembuh dan kita pasti akan bertemu lagi. Terus bagaimana dengan Rei?”

“Masalah Rei ya? Sebaiknya dia tidak perlu diberitahu. Nantinya dia juga pasti akan tahu sendiri besok di sekolahan. Ku mohon jangan beri tahu dia.”

“Baiklah kalau itu maumu. Oiya, jangan lupakan aku ya ketika di sana. Jangan lupa juga buat ngasih kabar ke aku. Pastinya aku akan sangat merindukanmu dan juga aku minta maaf atas kesalahan-kesalanku ya terutama dengan yang terjadi akhir-akhir ini. Maaf juga ya besok aku tidak bisa mengantarmu sampai ke bandara.”

“Iya, makasih banyak ya. Aku juga minta maaf sama kamu atas semua kesalahankesalahanku. Aku juga pasti akan sangat merindukanmu, sangat sangat sangat merindukanmu.” Ucapku sambil memeluk Sherly.

“Ya sudah. Aku akan pulang sekarang ya, sudah malam nih. Sampai jumpa dilain waktu. Semoga cepat sembuh ya agar kita bisa bertemu lagi.”

 *** 

Keesokan harinya. Aku berangkat dari bandara ke Jepang pada pukul 10.00 waktu setempat. Sekarang sudah pukul 08.00. Tinggal dua jam menunggu keberangkatanku meninggalkan negara ini. Aku akan tinggal di tempat yang baru dan menjalani perawatan di sana.

Di lain tempat, di sekolahan, bel masuk berbunyi. semua siswa duduk rapi di tempat duduknya. Namun hanya aku yang tidak hadir. Pelajaran pun berlangsung tanpa aku.

Pelajaran berakhir pukul 09.30 dan sudah waktunya istirahat. Rei segera menghampiri Sherly untuk menanyakan keberadaanku.

“Sherly. Apa yang terjadi dengan Renna? Kenapa dia tidak masuk?” Tanya Rei.

“Dia sudah pindah Rei. Hari ini dia pergi ke Jepang.” Jawab Sherly.

“Kenapa tiba-tiba pindah?” Tanya Rei lagi.

“Dia didiagnosa mengidap penyakit leukemia. Jadi, dia menjalani perawatan ke Jepang. Sekalian untuk pindah dan tinggal di sana.”

“Apa? Mengidap penyakit leukemia?”

“Iya.”

“Apa yang harus ku lakukan? Ada yang harus ku katakan padanya. Selama ini aku telah salah menilai perasaanku, sebenarnya aku telah jatuh cinta padanya semenjak dia hampir menabrakku waktu itu. Tetapi aku sama sekali tidak menyadarinya. Apa yang harus ku lakukan sekarang?”

“Dia berangkat pukul 10.00 masih ada waktu beberapa menit. Cepat kejar dia jika kamu benar-benar mencintainya.” “Baiklah. Terima kasih atas semuanya.” Rei pun segera melaju dengan mobilnya tanpa menghiraukan apa pun. Dia terus melihat jamnya dan tinggal 5 menit sebelum keberangkatan. Setelah beberapa saat, dia sampai di bandara. Namun pesawat yang membawa Renna ke Jepang telah berangkat.

 ~ TAMAT~ 
 Cerpen nya Nana <3 ©2014 

Baca Juga
SHARE
Man
seorang mahasiswa semester akhir yang suka mengumbar senyum, kemesraan, dan kebucinan bersama kucing. sangat menyukai nasi goreng, kota Bandung, dan kamu.

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar

Iklan Tengah Post

Iklan 300x250